Selasa, 24 Januari 2012

Tidak Ada Sahabat Sejati, Hanya Kepentingan

    Salah satu tanya yang paling saya takuti adalah “apakah Anda mempunyai sahabat?”

Suatu ketika dalam sebuah seminar NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Addictive Berbahaya), pembicara menggunakan sebuah analogi untuk menjawab pertanyaan salah seorang peserta seminar. Penganalogian tersebut dipakai untuk memudahkan peserta dalam memahami inti dari jawaban yang akan disampaikan. Saat itu analoginya tentang kesetiaan dua orang yang saling bersahabat selama 12 tahun lamanya terkait dengan penggunaan narkoba. Tak dinyana ternyata salah seorang di antaranya adalah pengguna narkoba yang tertangkap dan divonis 12 tahun masa kurungan.

Pembicara kemudian melemparkan sebuah tanya kepada peserta seminar, “siapa di sini yang mempunyai sahabat?” Entah mengapa ketika pertanyaan itu terlontar saya merasa tertampar. Memang saat itu pandangan kami – antara pembicara dan saya – bertemu, namun bukan hal itu yang seolah menampar saya. Terlebih pada isi tanya yang disampaikannya. Kemudian pembicara melanjutkan penjelasannya.

Satu hal yang menjadi pokok bahasan saya pada catatan kali ini adalah pertanyaan pembicara tersebut, “Apakah saya mempunyai sahabat?”

Teringat kembali ekspresi saya ketika tanya itu terlontar; datar. Jujur saya bingung. Ketika banyak peserta yang mengacung dan menjawab “SAYA!” Sebaliknya saya malah tertunduk dan kebingungan. Benar juga – ujar saya – saya ini sebenarnya punya sahabat tidak ya? Lalu banyak lagi pertanyaan yang berlompatan di otak saya. “Kalau saya punya, siapa ya sahabat saya? Si A, si B, si C, atau semuanya? Atau malah saya tidak punya sahabat? Atau saya yang belum bisa menjadi seorang sahabat? Ah, sepertinya saya sudah menjadi sahabat. Tapi, apakah saya tipe sahabat yang baik? Jangan-jangan saya yang belum menjadi sahabat yang baik?”

Saya semakin larut dalam tanya saya sendiri. Di sini saya berefleksi, sedalam-dalamnya refleksi. Apakah sahabat itu terlahir dari dalam diri saya atau orang yang datang lalu mengikrarkan diri untuk bersama saya? Ada pendapat yang cukup ‘menohok’ dari sastrawan kenamaan yaitu Kahlil Gibran, yang kata-kata bijaknya telah dikenal oleh banyak orang. Menurutnya “Tidak ada sahabat sejati, yang ada hanyalah kepentingan.”

Lalu bagaimana jika kita kaitkan dengan romantisme kisah persahabatan antara Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan sohabiyah, apakah itu juga persahabatan berlandaskan kepentingan semata?

Secara pribadi saya setuju jika persahabatan yang terikat pada zaman Nabi Muhammad adalah sahabat yang berlandas pada kepentingan. Kepentingan akan kebutuhan saling menjaga dalam iman, saling menasihati dalam Islam, saling mengasihi dalam perjuangan, saling menguatkan dalam kelemahan dan saling mencintai dalam ukhuwah persaudaraan. Kepentingan-kepentingan tersebutlah yang kemudian saling menyatu-padukan hati-hati mereka untuk tetap dalam satu barisan, penegak kebenaran penolak kebatilan.


Dan Rabithah pun menjadi senjata paling pamungkas bagi keretakan dan keterikatan mereka. Betapa lembutnya dedo’a yang selalu dipanjatkan…

“Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu. Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam. Ya Rabbi bimbinglah kami”

Maka jarak tak lagi menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap saling memenuhi kepentingan satu sama lain, karena hati-hati mereka telah lebih dulu terpadu, terhimpun dalam naungan yang Maha Melindungi.
Sangat miris rasanya jika dibandingkan dengan fenomena gaya persahabatan yang tengah berkembang saat ini. Jarak kamar yang bahkan hanya terhitung jengkal pun seolah seperti terpisah selat dan pulau. Kesibukan masing-masing selalu menjadi alibi di atas semuanya. Tak ada lagi saling mengajak untuk mendirikan jamaah, mengoreksi muraja’ah, ketuk pintu untuk membangunkan qiyamul lail atau sekedar sharing kegalauan. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kesehatan ruhiyah kita antara sahabat dan kepentingan?

Maka seringlah gumamkan Rabithah sembari munculkan wajah-wajah sahabatmu – Allah akan genggam kepentingan di antara kalian. Bahkan kita bukanlah pemilik hati kita, maka,
“Yaa muqallibal kuluub… tsabbit qalbi ‘ala diniik, tsabbit qalbi ‘ala to’atiik…” karena “Teman-teman akrab pada hari (kiamat) nanti sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

Refleksi saya lalu bermuara pada diri saya sendiri, saya tidak akan mendapat sahabat yang hakiki selama saya belum menjadi sahabat yang baik, yang membawa kepentingan atas dasar keimanan pada ketauhidan Allah Azza Wa Jalla.

Wallahua’lam bissowab…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17748/tidak-ada-sahabat-sejati-hanya-kepentingan/#ixzz1kQbKOrEF

Minggu, 15 Januari 2012

CInTA

Risiko terburuk dari mencintai sahabat adalah kehilangan sahabat secara utuh. akan kehilangan dirinya sebagai sahabat dan sekaligus tak pernah mendapatkannya sebagai kekasih. Kalau pun pada akhirnya dia jadi kekasih, tidak tertutup kemungkinan hubungan bubar dan akan kehilangan dia. Dalam keadaan rapuh,orang cenderung gampang jatuh cinta,padahal itu hanya luapan emosi semata. Jadi,yakinkan perasaan Anda apakah yang Anda rasakan benar-benar cinta atau emosi sesaat saja.

 --- Ciri-ciri sahabat jadi cinta --

■ bahwa perasaan kita berubah dimana kita merasa aman dan nyaman bila berada disisinya

■ kita jadi take care sama dia


■ merasa tak sabar bila harus menunggu kalau sehari dia tak muncul


■ kalau sedang berbicara dengan dia maka kata2 kita banyak yg kelu


■ ingatan sering tertuju kepadanya


■ Seneng kalau dapat sms atau tlpn dari dia

Kamis, 12 Januari 2012

Lirik lagu Sindentosca – Kepompong

Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu
Bridge:
Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang
Reff :
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong

Persahabatan bagai Kepompong.










inilah cerita persahabatanKU














Cerita Persahabatan kelompok 6 di PGSD MUHAMMADIAH PALANGKARAYA




Rabu, 11 Januari 2012

Lirik Lagu Ungu Cinta Dalam Hati Lyrics

mungkin ini memang jalan takdirku

mengagumi tanpa di cintai

tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia

dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu

menunggu hatimu menyambut diriku

tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah 

bahagia untukku, bahagia untukku
reff:

ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu

meski ku tunggu hingga ujung waktuku

dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya

dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja

tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya

dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja
repeat reff
Lirik Lagu Peter Pan Sahabat Lyrics
Bayangkan ku melayang
Seluruh nafasku terbang
Bayangkan ku menghilang
Semua tanpa mu teman
Bila nafasku lepas
Semua langkahnya lelah
Semua waktu yang hilang
Tapi bayangmu tetap
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
REFF: Ingat ’kan aku semua, wahai sahabat
Kita untuk selamanya, kita percaya
Kita terbakar arang dan tak pernah lelah
Ingat ’kan aku semua semua, wahai sahabat
Ingat ’kan aku semua semua, wahai sahabat
Kita untuk selamanya, wahai sahabat
Kita bagai cerita, wahai sahabat
Ingat ’kan aku semua semua, wahai sahabat
Wahai sahabat…..wahai sahabat….
Ungu - Sahabatku

hei sahabat setia
genggam tanganku erat
bersama kita bisa
gapai cita dan cinta

hei sahabat setia
hidup kita berwarna
bersama kita bisa
hadapi semua problema

ref:
satukan langkah
jangan pernah kau lepas
bersama meraih cita
hadapi semua
aral yang datang meghadang
bersama kita bersama

tertawa bersama
menangis bersama
dan seperti biasa

Cinta


inilah yang dinamakan persahabatan




PERSAHABATAN

Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Bagi banyak orang, persahabatan dan hubungan antar kenalan terdapat dalam kontinum yang sama.
Disiplin-disiplin utama yang mempelajari persahabatan adalah sosiologi, antropologi dan zoologi. Berbagai teori tentang persahabatan telah dikemukakan, di antaranya adalah psikologi sosial, teori pertukaran sosial, teori keadilan, dialektika relasional, dan tingkat keakraban.